اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ
(3×)
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا
وَالحَمْدُ لِلّهِ كثيرا
وسبحان الله بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ
اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ
اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Jamaah ‘Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Pagi ini, seluruh ummat Islam, dari
pusat kota suci Makkah al-Mukarramah, sampai ke berbagai penjuru negeri
mengumandangkan takbir:
اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
Sebagai ungkapan syukur kepada Allah
Swt. Sesungguhnya, Allah Swt tidak pernah perlu kepada syukur kita, karena
syukur kita itu hanya akan kembali kepada kita, menambah dan mengekalkan nikmat
Allah Swt:
وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
“Barangsiapa yang bersyukur maka
sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. (Qs. An-Naml
[27]: 40). Karena dalam ayat lain Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”. (Qs. Ibrahim [14]: 7).
Jamaah ‘Idul Adha yang dimuliakan Allah …
Pagi ini, lewat momen Idul Adha kita
kembali diingatkan dengan beribu makna hikmah yang terkandung di balik sejarah
Nabi Ibrahim as. Namun inti dari semua makna itu terangkum dalam tiga poin
besar:
Pertama, Hubungan Orang Tua dan Anak.
Peristiwa kurban mengingatkan kita pada
hubungan kepatuhan mutlak Ismail as kepada Ayahanda Ibrahim as. Dengan
ucapannya yang tertulis dalam al-Qur’an,
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Ibrahim berkata: ‘Hai anakku
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah
apa pendapatmu!’.
Ismail menjawab: ‘Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar’.” (Qs. as-Shaffat [37]: 102).
Demikianlah jawaban anak shalih yang
diharapkan Nabi Ibrahim as dalam doanya,
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku
(seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (Qs. as-Shaffat [37]:
102).
Peristiwa menyentuh hati dan perasaan
ini mengajak kita untuk melihat kembali bagaimana anak-anak kita? Sudahkan kita
didik menjadi anak yang patuh dan taat mengikuti perintah Allah Swt?
Anak adalah amanah, dengan anak kita
bisa masuk surga,
مَنْ عَالَ ثَلَاثَ بَنَاتٍ فَأَدَّبَهُنَّ وَزَوَّجَهُنَّ وَأَحْسَنَ
إِلَيْهِنَّ فَلَهُ الْجَنَّةُ
“Siapa yang merawat tiga orang anak
perempuan, ia didik dengan baik, ia nikahkan dengan orang baik, maka surgalah
baginya”. (HR. Abu Daud).
Dengan anak maka amal menjadi mengalir,
إذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ
إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقةٍ جَاريَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ
وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia mati, maka putuslah
amalnya, kecuali tiga: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih
yang mendoakannya”. (HR. Muslim).
Tapi ingat, disebabkan anak juga kita
akan masuk ke dalam neraka,
ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ الله عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ :
مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَ الْعَاقُّ وَ الدَّيُّوْثُ الَّذِيْ يُقِرُّ فِيْ أَهْلِهِ
اَلْخَبَثَ
“Tiga orang, diharamkan Allah Swt
surga bagi mereka: pecandu khamar/narkoba, durhaka kepada orang tua dan orang
tua/wali yang membiarkan keluarganya berbuat nista”. (HR. Ahmad).
اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
Pagi ini kita diingatkan dengan tanggung
jawab kita kepada anak-anak kita. Sudahkah kita didik mereka dengan baik?
Bagaimana bacaan al-Qur’an mereka? Bagaimana shalat mereka? Sudahkan mereka
menutup aurat?
Pagi ini juga anak diingatkan tentang
bakti kepada orang tua. Bagaimanapun banyaknya amal mereka, kalau anak durhaka
kepada orang tua. Maka Allah Swt haramkan surga bagi mereka. Jika mereka masih
hidup, kembali dari shalat ini, kita masih bisa datang ke rumah mereka. Memeluk
dan mencium mereka dengan kasih sayang. Sebagai ungkapan rasa bersalah karena
tidak mampu membalas budi baik mereka. Tapi, andai ajal telah mendahului. Sesal
kemudian tiada berarti. Kita hanya dapat mengucapkan,
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرا
“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang
tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku masih
kecil”.
Hanya itulah yang dapat kita ucapkan
dengan uraian air mata.
“Surga di bawah
telapak kaki ibu”, bukan ungkapan hamba tanpa makna.
أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أَرَدْتُ الْجِهَادَ مَعَكَ
أَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ قَالَ وَيْحَكَ
أَحَيَّةٌ أُمُّكَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ ارْجِعْ فَبَرَّهَا ثُمَّ أَتَيْتُهُ مِنْ
الْجَانِبِ الْآخَرِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أَرَدْتُ
الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ قَالَ
وَيْحَكَ أَحَيَّةٌ أُمُّكَ قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَارْجِعْ
إِلَيْهَا فَبَرَّهَا ثُمَّ أَتَيْتُهُ مِنْ أَمَامِهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ
اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أَرَدْتُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ
اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ قَالَ وَيْحَكَ أَحَيَّةٌ أُمُّكَ قُلْتُ نَعَمْ
يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَيْحَكَ الْزَمْ رِجْلَهَا فَثَمَّ الْجَنَّةُ
Mu’awiyah bin Abi Jahimah as-Sulami
menghadap Rasulullah Saw, ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin berjihad
bersamamu dengan berharap kemuliaan Allah Swt dan akhirat”.
Rasulullah Saw bertanya, “Apakah ibumu
masih hidup?”. Mu’awiyah menjawab, “Ya”.
Rasulullah Saw, “Pulanglah! Berbaktilah
kepadanya!”.
Mu’awiyah, “Saya datang lagi dari sisi
yang lain. Saya katakana, ‘Wahai Rasulullah, saya ingin berjihad bersamamu
dengan berharap kemuliaan Allah Swt dan akhirat”.
Rasulullah Saw bertanya, “Apakah ibumu
masih hidup?”. Mu’awiyah menjawab, “Ya”.
Rasulullah Saw, “Pulanglah! Berbaktilah
kepadanya!”.
Mu’awiyah, “Saya datang lagi dari arah
depan Rasulullah Saw. Saya katakan, ‘Wahai Rasulullah, saya ingin berjihad
bersamamu dengan berharap kemuliaan Allah Swt dan akhirat”.
Rasulullah Saw bertanya, “Apakah ibumu
masih hidup?”. Mu’awiyah menjawab, “Ya”.
Rasulullah Saw, “Rawatlah kakinya,
engkau dapati surga di sana”. (HR. Ibnu Majah).
Bakti kepada ibu
membuat seorang anak terkabul doanya melebihi sahabat-sahabat Rasulullah Saw.
Suatu ketika Rasulullah Saw pernah berkata,
إِنَّ رَجُلًا يَأْتِيكُمْ مِنْ الْيَمَنِ يُقَالُ لَهُ
أُوَيْسٌ لَا يَدَعُ بِالْيَمَنِ غَيْرَ أُمٍّ لَهُ قَدْ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ
فَدَعَا اللَّهَ فَأَذْهَبَهُ عَنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ الدِّينَارِ أَوْ
الدِّرْهَمِ فَمَنْ لَقِيَهُ مِنْكُمْ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ
“Ada seorang laki-laki. Ia akan
datang kepada kamu. Ia berasal dari Yaman. Namanya Uwais. Ia tidak bisa
meninggalkanYaman (saat ini) karena ia merawat ibundanya. Ia pernah terkena
penyakit supak (warna putih pada kulit). Ia berdoa kepada Allah Swt, maka Allah
Swt menghilangkan penyakit itu, kecuali hanya tertinggal sebesar uang logam
Dinar (logam emas) atau Dirham (logam perak). Siapa diantara kamu yang berjumpa
dengannya, maka mintalah doa kepadanya agar Allah Swt mengampuni kamu”.
(HR. Muslim). Bayangkan, seorang hamba yang lemah, jauh dari Rasulullah Saw,
tapi doanya kabul, mengalahkan doa para shahabat nabi, bahkan para shahabat
nabi pun diminta agar memohonkan doanya. Doanya terkabul, karena baktinya
kepada ibundanya.
Tanpa
mengesampingkan makna ayah,
أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي
مَالًا وَوَلَدًا وَإِنَّ أَبِي يُرِيدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالِي فَقَالَ أَنْتَ
وَمَالُكَ لِأَبِيكَ
Seorang laki-laki datang menghadap
Rasulullah Saw mengadukan ayahnya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya
mempunyai harta dan anak. Tapi ayah saya ingin mengambil harta saya”.
Rasulullah Saw menjawab, “Engkau dan hartamu milik ayahmu”. (HR. Ibnu Majah).
Bagaimana
mungkin orang dapat mengesampingkan kedua orang tuanya, bangga dengan harta,
anak, bahkan amalnya. Padahal orang tua pada level kedua setelah Allah Swt,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا
أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا
قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan
supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada
ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan
dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana
mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Qs. al-Isra’ [17]: 23-24).
Posisi
mereka setelah Allah Swt. Mengapa ada orang yang begitu sombong menuntut mereka
ke pengadilan dunia hanya karena ingin merebut kebahagiaan duniawi. Sadarkah
mereka bahwa murka Allah Swt terletak pada murka kedua orang tua,
رِضَا الرَّبّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَ سَخَطُهُ فِيْ سَخَطِهِمَا
“Ridha Allah Swt terletak pada ridha
kedua orang tua dan murka Allah Swt terletak pada murka kedua orang tua”.
(HR. ath-Thabrani).
اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
Hikmah Kedua, Keseimbangan Antara Usaha dan Tawakkal.
Sayang dan cinta kepada anak dan istri,
tapi perintah Allah Swt mesti tetap dipatuhi. Meleleh air mata Nabi Ibrahim as
meninggalkan Hajar dan Ismail kecil di sebuah lembing kering. Kisah itu
diabadikan dalam al-Qur’an, Nabi Ibrahim as pun
mengadu kepada Allah Swt,
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ
مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ
رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي
إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Wahai Robb
kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang
tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati,
Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka
Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah
mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”. (Qs. Ibrahim
[14] : 37). Di tengah lembah tandus tanpa tanaman itulah Hajar dan Ismail
berada, seorang wanita lemah dan bayi tidak berdaya membutuhkan air. Apakah
Allah langsung menurunkan air kepada mereka ?! Tidak. Hajar bukan wanita
lemah. Ia perempuan yang tegar. Hajar tidak mengeluh kepada Allah Swt dengan
mengangkat tangan. Hajar tidak membawa-bawa nama besar suaminya yang seorang
nabi dan anaknya juga seorang nabi. Hajar tidak pula menghujat dan mencela di
mana air berada ?!. Tapi Hajar berjalan kaki dari bukit Shafa menuju bukit
Marwa sebanyak tujuh kali. Tumit perempuan yang lemah itu menginjak pasir gurun
panas di bawah terik matahari. Setelah ia lelah dan tetap tidak mendapatkan air
yang ia cari, maka ia kembali ke tempat Ismail berbaring. Ternyata, air tidak
ditemukan di tempat yang dicari. Tapi air datang dari tumit Ismail yang belum
pandai melangkah. Dari kisah ini tersirat sebuah makna yang sangat mendalam
yaitu pentingnya berusaha sekuat tenaga dan seoptimal mungkin untuk mencari apa
yang kita inginkan. Karena Allah tidak langsung memberi tanpa ada usaha.
Demikian juga perubahan menuju kehidupan yang lebih baik yang kita inginkan
tidak akan terwujud kecuali ada keinginan dan perbuatan dari kita sendiri.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى
يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak merobah
Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri”. (Qs. Ar-Ra’d [13]: 11).
Di
sanalah keserasian antara syariat Nabi Ibrahim as dengan syariat Nabi Muhammad
Saw. Sama-sama mengajarkan keseimbangan antara usaha dan doa. Rasulullah Saw
tidak pernah duduk berpangku tangan menunggu rezeki turun dari langit.
Al-Qur’an mengajarkan,
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي
الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila telah ditunaikan shalat,
maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah
Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Qs. al-Jumu’ah [62]: 10).
قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا
وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
Seorang laki-laki bertanya, “Wahai
Rasulullah. Apakah unta ini saya tambatkan lalu saya bertawakkal? Atau saya
lepaskan saja, kemudian saya bertawakkal?”.
Rasulullah Saw menjawab, “Tambatkanlah!
Setelah itu, bertawakkallah!”.
(HR. at-Tirmidzi).
“Berusaha
tanpa tawakkal, sombong. bertawakkal tanpa usaha, kosong”.
اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
Hikmah Ketiga: Berkorban Untuk Agama
Allah Swt.
Islam bukan agama yang melarang orang
untuk mencari harta. Dalam Islam diajarkan, orang yang mampu secara ekonomi,
kuat fisik, ilmu dan iman, lebih baik dan dicintai Allah Swt daripada orang
yang miskin, lemah fisik, lemah ilmu dan lemah iman. Rasulullah Saw bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ
الضَّعِيفِ
“Seorang mukmin yang kuat, lebih baik
dan lebih dicintai Allah Swt daripada mukmin yang lemah”. (HR. Muslim).
Dalam ibadah haji kita
mengenal istilah Wuquf, yang merupakan rukun haji. Yaitu berkumpul di padang
Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Wuquf ini adalah miniatur hari mahsyar kelak,
saat manusia dibangkitkan di hadapan Allah. Semua
manusia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan jenis kulit. Terdiri dari
tingkat, level dan kedudukan. Semuanya sama di hadapan Allah. Tidak ada yang
lebih mulia di sisi Allah kecuali takwanya. Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ
ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)
Hai
manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs. Al
Hujurat [49] : 13).
Miniatur
hari kiamat, pada hari itu tidak ada yang dapat menolong manusia kecuali
amalnya sendiri. saudara yang kita harap-harapkan dapat
membantu kita, mereka justru lari meninggalkan kita, يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (Qs. ‘Abasa
[80] : 34). Anak-anak yang begitu sayang kepada orang tua ketika berada di
dunia juga lari meninggalkan orang tua mereka : وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) (Qs.
‘Abasa [80] : 35). Demikian juga dengan istri dan sanak
keluarga : وَصَاحِبَتِهِ
وَبَنِيهِ (36) (Qs.
‘Abasa [80] : 36). Semuanya disibukkan oleh urusan
masing-masing : لِكُلِّ امْرِئٍ
مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37) (Qs.
‘Abasa [80] : 37). Sudahkah kita mempersiapkan diri menghadapi hari
itu dengan amal badan dan amal harta yang kita punya?!
Jama’ah ‘Idul Adha
yang dimuliakan Allah …
Mencari harta itu
sulit. Namun ada yang lebih sulit, yaitu berjuang melawan hawa nafsu dan
bisikan setan yang selalu mengajak agar menahan harta, tidak berkurban, tidak
bersedekah. Sehingga mati dalam keadaan menumpuk harta, tidak pernah berbuat
untuk agama Allah Swt walau seujung kuku.
Setelah melaksanakan Wuquf di Arafah, jamaah haji pun
pergi menuju Muzdalifah, kemudian menginap di Mina selama tiga hari untuk
melontar jumrah. Ritual melontar jumrah ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi
Ibrahim yang ketika itu akan menyembelih putranya Ismail, kemudian digoda oleh
setan agar tidak melaksanakan perintah Allah itu. Namun Nabi Ibrahim menolak
ajakannya dan melontarnya dengan batu. Dari kisah dan ritual ini tersimpan
hikmah bahwa setan tidak akan pernah bosan menggoda manusia. Allah Swt berfirman:
ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ
وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ
أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17)
“Kemudian saya akan mendatangi mereka
dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan
mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. (Qs. Al A’raf [7]: 17). Setan akan
datang dari depan, dari belakang, dari arah kanan dan kiri manusia. Oleh sebab
itu manusia mesti mengerti hakikat setan dan menjadikannya sebagai musuh yang sebenarnya:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ
عَدُوًّا
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh
bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu)”. (Qs. Fathir [35]: 6).
اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
Pada tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah haji
yang berada di Mina dan seluruh kaum muslimin menyembelih hewan kurban melaksanakan perintah
Allah: فَصَلِّ لِرَبِّكَ
وَانْحَرْ (2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan
berkorbanlah. (Qs. Al Kautsar [108]: 2). Dalam ibadah kurban ini terkandung
makna melaksanakan perintah Allah, ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim agar
menyembelih putranya, kemudian Allah mengganti sembelihan itu dengan seekor kambing: وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (Qs. Ash-Shaffat
[27]: 107). Disamping itu dalam ibadah kurban ini terkandung makna kepedulian
sosial, memperhatikan nasib orang lain dan berbagi kebahagiaan dengan orang
lain serta mengikis sifat kikir yang ada dalam diri kita, Allah berfirman: وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Dan siapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”.
(Qs. Al Hasyr [59]: 9). Ibadah kurban juga mengisyaratkan kepada makna
menyembelih sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, sifat rakus, tamak,
tidak peduli sesama dan sifat-sifat binatang lainnya.
Berkurban hari ini
bukan hanya sekedar mampu melawan setan dan mengeluarkan uang untuk menyembelih
hewan kurban. Tapi ini adalah langkah awal menuju pengorbanan-pengorbanan
lainnya untuk agama Allah Swt. Masih banyak hamba-hamba Allah Swt yang perlu
dibantu. Anak-anak yatim dan orang terlantar yang membutuhkan uluran tangan.
Harta yang banyak tidak dapat membantu di hadapan Allah Swt, yang akan menolong
adalah amal badan dan harta yang pernah kita infaqkan di jalan Allah Swt.
Berapa banyak harta yang kita cari, tapi kita tidak pernah menikmatinya, tapi
dinikmati ahli waris, bahkan orang lain yang tidak memiliki nasab dan hubungan
darah dengan kita. Kalau ingin menikmati harta yang kita cari dengan tetes peluh
dan air mata, maka gunakanlah di jalan Allah Swt.
Semoga momen ‘Idul
Adha kembali mengingatkan kita akan pentingnya: pendidikan anak, seimbang dalam
usaha dan tawakkal, dan yang jauh lebih penting adalah berkurban untuk agama
Allah Swt.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ.
وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ
وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى: اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
مَغْفُوْرً ذَنْبًا وَ مَشْكُوْرًا سَعْيًا وَ مَبْرُوْرًا حَجًّ
اجْعَلْ اللَّهُمَّ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar